Oleh: numisku | 25 Mei 2012

Probolinggo Pernah Punya Uang Kertas Sendiri

KOMPAS/DAHLIA IRAWATI

Seorang petugas Museum Probolinggo menunjukkan uang kertas Probolinggo, beberapa saat lalu. Uang kertas itu dibuat Gubernur Jenderal Daendels pada tahun 1810.

KOMPAS, Kamis, 24 Mei 2012 – Wah, Probolinggo punya mata uang sendiri.” Demikian celetuk Dini Oktaviana, siswi kelas V Sekolah Dasar Negeri Tisnonegaran III, Probolinggo, terkagum-kagum. Ia melihat uang kertas yang tersimpan dalam kotak kaca itu.

Kertas Probolinggo atau Probolinggo Papier itu adalah uang kertas yang dibuat Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811) tahun 1810. Kertas putih berukuran sedang itu berisi tulisan berbahasa Belanda dan Arab Melayu, ditandatangani pejabat berwenang dan dibubuhi cap ”LN” atau Lodewijk Napoleon. Kala itu Belanda dalam kekuasaan Perancis, yang dipimpin Napoleon Bonaparte.

Uang itu menjadi salah satu koleksi Museum Probolinggo, salah satu museum di Jawa Timur yang ramai dikunjungi warga. Museum itu menyimpan keping sejarah Probolinggo dengan lengkap.

Kertas berharga itu dikeluarkan untuk mengatasi defisit pemerintahan Belanda karena pengeluaran pemerintah lebih besar daripada pemasukan. Pengeluaran terbesar dipakai untuk biaya pegawai dan tentara, memperkuat benteng pertahanan, biaya peperangan dengan raja-raja di Jawa, hingga pembuatan Jalan Anyer-Panarukan.

Bahkan, sejumlah tanah yang dikuasai Belanda, termasuk Probolinggo, dijual demi mengatasi defisit. Probolinggo dijual kepada konglomerat Han Ti Ko senilai 1 juta Rijksdaalder atau 1 juta ringgit. Pembayarannya boleh dilakukan secara mengangsur.

Namun, karena membutuhkan uang cepat, akhirnya pemerintah Belanda menerbitkan surat berharga dengan jaminan uang perak senilai tanah Probolinggo untuk jangka waktu 10 tahun. Surat berharga ini yang disebut Kertas Probolinggo atau uang Probolinggo, yang diterbitkan dalam nominal antara 100 – 1.000 Rijksdaalder.

Uang kertas Probolinggo dan kisah sejarahnya itu kini tersimpan rapi dalam Museum Probolinggo. Probolinggo patut berbangga karena menjadi salah satu dari sedikit wilayah di Jatim yang memiliki museum sebagai penyimpan penggal sejarah masa lalu daerahnya.

Museum Probolinggo memiliki koleksi lengkap, mulai dari zaman klasik, zaman kolonial, zaman kemerdekaan, hingga zaman modern. Setidaknya sekitar 1.000 barang dan 800 foto sejarah Probolinggo ditata apik dalam museum itu. Koleksinya beragam, dari peninggalan arkeologi berupa patung Nandi dan Bima yang ditemukan di Probolinggo hingga keris Srendaka. Keris itu peninggalan Demang Wonosari, sekarang Ngadisari, yang memimpin pemberontakan dari Desa Kedopak (sekarang Kedopok) melawan Babah Tumenggung (Mayor Han Kek Koo), yaitu Bupati Probolinggo ke-5.


Serbaguna

Tidak banyak daerah memiliki kemampuan mengumpulkan serpihan sejarahnya dalam sebuah museum. Apalagi museum selama ini tak menjanjikan keuntungan secara ekonomi.

”Gedung museum Probolinggo ini dahulunya gedung serbaguna. Karena dirasakan penting membuat museum mengenai sejarah Probolinggo, gedung ini dialihkan menjadi museum,” kata Koordinator Museum Probolinggo, Ade Sidik Permana, beberapa saat lalu. Pengalihan gedung serbaguna menjadi museum itu terjadi tahun 2009. Namun, museum itu baru diresmikan pada 15 Mei 2011.

Museum Probolinggo ini ternyata mampu menarik minat masyarakatnya. Warga Probolinggo antusias memahami sejarah wilayahnya itu. Sejak dibuka hingga kini, ratusan pengunjung lokal dan luar negeri mencoba memahami sejarah Probolinggo.

”Saya sudah beberapa kali ke sini. Dengan datang ke museum ini saya menjadi tahu banyak hal mengenai sejarah Probolinggo. Senang rasanya kota saya punya banyak cerita sejarah,” ujar Dini, warga yang datang bersama empat temannya.

Halaman Museum Probolinggo juga menjadi ajang pementasan jaran bodhag, kesenian tradisional dan menjadi tempat kumpul seniman. ”Museum ini diarahkan menjadi museum modern yang tidak hanya menyimpan barang mati. Nantinya harus menjadi wadah komunikasi masyarakat, terutama dalam hal seni budaya,” ujar Ade.

Di sisi gedung utama museum, kini dirintis pembangunan perpustakaan. Ke depan akan dibangun galeri lukisan dan berbagai kelengkapan museum modern lain.

Upaya Pemerintah Kota Probolinggo untuk menguatkan pemahaman warga akan sejarah kotanya patut diacungi jempol. Apalagi, pada saat daerah lain berlomba-lomba membangun mal, Probolinggo membangun museum. (DAHLIA IRAWATI)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: