Oleh: numisku | 14 Juli 2011

Museum Negeri Papua Andalkan Uang Kuno

kompas.com, Minggu, 19 Juni 2011 – Museum Negeri Provinsi Papua akan menggelar pameran khusus koleksi numismatika (mata uang) dan heraldika (tanda jasa atau lambang) pada 21 hingga 27 Juni mendatang. Mata Uang kuno dari tahun 1704 pun bakal dipamerkan kepada publik. “Uang dan tanda jasa yang akan dipamerkan, pernah beredar pada masa kolonial Irian Barat dan Indonesia. Jumlahnya mungkin kurang lebih mencapai 400 buah,” jelas Yakomina Rumbiak, Kepala Seksi Bimbingan Edukatif Kultural, Sabtu (18/6/2011).

Yakomina menjelaskan merupakan tugas museum untuk menyelamatkan dan merawat koleksi-koleksi tersebut. “Lewat publikasi pameran memberikan kesempatan kepada masyarakat terutama pelajar dan mahasiswa untuk menyaksikan seluruh benda-benda yang dipamerkan,” katanya.

Mantan kepala Museum, Paul Yoam, menjelaskan mata uang pernah beredar di Papua adalah mata uang gulden Belanda, mata uang Spanyol, mata uang Inggris, mata uang Jepang, dan sebagainya. “Pada zaman itu, masyarakat kita belum mengenal uang. Jadi uang digunakan pendatang untuk alat barter. Kita memberikan yang ada di lingkungan seperti tanah atau babi,” urainya.

Paul melanjutkan ada empat cara pengadaan mata uang. Pertama, museum akan mensurvei tempat mata uang tersebar. “Kemudian, satu tahun kemudian, kami membelinya. Kita juga lihat umurnya sudah lebih dari 50 tahun apa tidak,” jelasnya.

Kedua, dengan cara mengganti rugi. “Ada juga mata uang yang kami dapatkan lewat hibah, titipan, dan sitaan,” sambungnya.

Adapun heraldika, dijelaskan Paul, dibagi dua yakni tanda jasa tradisional dan tanda jasa peninggalan sejarah. Yang tergolong tanda jasa tradisional adalah anting-anting, topi atau makhota berhias burung, taring babi dan taring buaya, gelang, dan batu penusuk hidung.

Sementara tanda jasa yang dimaksud peninggalan sejarah seperti gom, medali, surat-surat berharga, dan cap atau stempel. “Saya berharap lewat pameran khusus nanti bisa menggugah perasaan pengunjung. Mencintai budaya berarti mencinta dirinya sendiri. Soalnya, orang membuat sebuah benda keluar dari filosifis dirinya sendiri,” jelasnya.

Museum Negeri Provinsi Papua sendiri telah dirintis sejak 1981. Salah satu tugas dan fungsi museum ini adalah sebagai lembaga pendidikan dan studi wawasan budaya bangsa, serta pusat informasi yang bersifat edukatif. Saat ini, museum memiliki 3.619 koleksi yang terdiri atas koleksi prasejarah, arkeologi, etnografi, seni rupa, numismatika-heraldika, keramologika, geologi, biologi, dan relik sejarah.


Responses

  1. Surat2 berharga masuk dalam “scripophily”.Cap stempel masuk “sigilography”.Apakah alat barter tradisional seperti manik-manik ,kerang(cypraea moneta),kain Timur(miyas) dllnya juga dipamerkan ?Demikian pula tanda jasa jaman UNTEA ?

  2. Kalau berminat utk menambah koleksi museum, saya punya uang koin emas WILLEM KONING DER NED G.H.V.L ( tahun 1718) 2,5 G dan WILHELMINA KONINGIN DER NEDERLANDE (tahun 1816) 2,5 G ,,, seandainya berminat bs hub saya 085643411114


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori