Oleh: numisku | 17 Februari 2011

Uang Kepeng di Bali

Hiasan arca Ganesha, terbuat dari uang kepeng Bali

Di Bali uang kepeng diperlukan sebagai bahan yadnya atau upacara keagamaan. Jumlahnya tak bisa ditentukan; bisa hanya puluhan saat upacara di rumah sehari-hari atau ratusan saat ada odalan besar di pura. Uang kepeng diyakini bisa memperkuat aura pura.

Uang kepeng atau pis bolong sudah menjadi bagian hidup masyarakat Bali sejak dulu. Fungsinya, sebagai alat pembayaran dan sarana upacara. Penggunaan uang kepeng sebagai alat pembayaran pertama kali disebut Stephen DeMeulenaere dalam situs appropriate-economics.org, sekitar tahun 900 M. Situs babadbali.com menyebutkan, berdasarkan bukti-bukti prasasti Sukawana A1 yang berangka tahun 882 Masehi, uang kepeng diduga telah memiliki fungsi dalam hubungannya dengan upacara agama Hindu di Bali. Menurut Ida Bagus Sidemen dalam buku Nilai Historis Uang Kepeng, sejak 1950-an, uang kepeng mulai berangsur-angsur kehilangan fungsinya sebagai uang kartal dan nilai religiusnya merosot karena kurang mendapat perhatian masyarakat Bali. Meski begitu, kebutuhan akan uang kepeng tetap ada untuk kepentingan upacara.

Dulu uang kepeng China dipakai di Bali. Karena uang kepeng kian langka, ada keinginan agar uang kepeng tak punah. Melalui SK Gubernur No. 68 Tahun 2003, dibentuk Bali Heritage Trust, lembaga yang bertugas melakukan upaya-upaya pelestarian budaya Bali, salah satunya uang kepeng. Dalam uang kepeng China, yang tergambar adalah nama kaisar yang berkuasa saat pembuatan uang kepeng itu. Karena itu, Bali Heritage Trust dan komponen masyarakat yang peduli, memikirkan desain uang kepeng sesuai budaya Bali. Pilihannya, uang kepeng panca-aksara dan padma. Padma atau lotus melambangkan dewata nawa sanga.

Selain untuk melestarikan budaya Bali, uang kepeng itu bisa digunakan untuk pengganti uang kepeng lama dalam upacara keagamaan. Karena itu, bahan bakunya harus mengandung panca-datu (lima kekuatan hidup yang dipengaruhi kekuatan panca-dewata), yaitu besi, perak, tembaga, emas, perunggu dan kuningan. Besi adalah kekuatan Dewa Wisnu, berwarna hitam dan berada di utara; perak adalah kekuatan Dewa Iswara, berwarna putih dan berada di timur; tembaga adalah kekuatan Dewa Brahma, berwarna merah dan berada di selatan; emas adalah kekuatan Dewa Mahadewa, berwarna kuning dan berada di barat; perunggu dan kuningan adalah kekuatan Dewa Siwa, berwarna-warni dan berada di tengah.

Produksi uang kepeng dilakukan oleh UD KamasanBali. Prinsipnya adalah menjaga lingkungan karena sebagian bahan yang digunakan berasal dari barang bekas, seperti pegangan pintu, keran, dinamo sepeda, velg sepeda motor atau mobil yang sudah tidak terpakai. Bahan pembuatan uang kepeng itu terdiri atas 25% tembaga, 50% kuningan, 15% timah, 9% alumunium, serta 1% emas, perak dan besi. Dalam produksi, bisa dihasilkan 3.000 – 5.000 uang kepeng sehari.

Kebutuhan uang kepeng untuk upacara di Bali sangat tinggi. Saat upacara besar di Pura Kentel Gumi, misalnya, uang kepeng yang dipakai bisa mencapai 100 ribu keping. Per keping, dijual Rp 700.


Suvenir dan Aksesori

Uang kepeng ternyata dapat dibuat suvenir dan aksesori dengan cara dianyam. Misalnya berbentuk bangunan atau patung dewa dan berbagai aksesori seperti anting-anting, liontin, gelang, dan cincin. Bahkan uang kepeng wayang sebagai upaya pengembangan usaha. Yang dipilih adalah wayang klasik Kamasan sebagai desainnya. Ada 18 macam jenis karakter wayang yang dibuat oleh usaha tersebut, antara lain Arjuna, Kresna, Pandawa Lima, Malen/Semar, Sangut, dan Dewi Durga.

Sebagian masyarakat Hindu di Jawa Barat, Lampung, Gorontalo, NTB, Jakarta, dan Manado menjadi pelanggan KamasanBali.

Tahun 2007, UD KamasanBali mencetak rekor Muri dengan membuat uang kepeng terbesar. Diameternya 77 cm, tebal 1,5 cm, dengan berat 50 kg. Uang kepeng terbesar itu setara dengan 11.335 uang kepeng biasa atau 67.567 uang kepeng koci/jepun.

(dari berbagai sumber)


Responses

  1. knpa kualitas uang kepeng jaman ciba dan yg skrg jauh beda, kalau uang kepeng cina dibakar tdk apa apa tpi kalau kepeng modern,,,,hancurr euy

  2. Berarti bahannya bukan panca datu..kalo dr ud kamasan bali bahannya solid..saya langganannya🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori