Oleh: numisku | 19 Juli 2010

Sejarah Bangsa Lewat Uang

Sejarah bangsa bisa diurut lewat sejarah uangnya. Ada takhayul, uang dengan gambar wayang menandai kejatuhan suatu pemerintahan. NEGARA merdeka tak cukup hanya dengan proklamasi, punya pemerintahan, tanah air, dan rakyat. Negara bisa menjadi tegak setelah punya uang.

Pemikiran inilah yang dipraktekkan oleh Mohammad Hatta ketika Republik Indonesia bergolak dalam revolusi. Karena itu, meskipun proklamasi baru saja empat belas bulan, Indonesia mengambil langkah politik, yakni mengeluarkan uang. Peristiwa ini ditandai dengan lahirnya “Oeang Repoeblik Indonesia” (disingkat ORI) pada 30 Oktober, 45 tahun lalu.

Untuk menyambut keluarnya mata uang tersebut, Hatta, selaku Wakil Presiden mengumumkan lewat corong RRI, sehari sebelum peredaran uang: “Besok tanggal 30 Oktober 1946 adalah soeatoe hari jang mengandung sedjarah bagi tanah air kita. Rakjat kita menghadapi penghidoepan baru …. Sejak moelai besok kita akan berbelanja dengan oeang kita sendiri, oeang jang dikeluarkan oleh Repoeblik kita sendiri….” Hari itu kemudian diperingati sebagai “Hari Keuangan”. Inilah antara lain informasi berharga yang bisa didapat dari buku Bank Notes and Coins From Indonesia 1945-1990. Sebuah buku tentang sejarah mata uang RI dari masa ke masa yang diterbitkan oleh Yayasan Serangan Umum 1 Maret 1949 dan Perum Peruri, Jakarta.

Buku bersampul tebal ini sempat dipajang di pameran buku Ikapi 1991 beberapa waktu lalu di Jakarta. Ini merupakan buku pertama yang komplet mengenai uang. Buku berukuran album foto lebar itu tampaknya mampu mengajak pembacanya membalik-balik sejarah bangsa lewat mata uangnya. Maka, “Pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang ringan,” kata St. J. Soeprapto, Direktur Perum Percetakan Uang RI (Peruri), kepada Bambang Sujatmoko dari TEMPO.

Selain harus akurat meneliti data sejarah, tim penyusun juga harus riset dengan referensi yang tentu saja langka. Gagasan penerbitan buku ini datang dari almarhum Mayor Jenderal Nichlany Soedardjo, selaku Ketua Umum Yayasan SU I Maret 1949. Ide ini kemudian ditawarkar ke Perum Peruri. Kedua pihak kemudian mengadakan kerja sama.

Lewat persiapan hanya tiga bulan, panitia penyusun yang terdiri sebelas orang dari Yayasan, Peruri, kolektor, dan ahli sejarah mata uang langsung mengumpulkan bahan. Setahun kemudian, Juni 1991, terbitlah buku itu. Terbitan pertama hanya 300 eksemplar dan diedarkan untuk kalangan terbatas. Bulan-bulan ini, sekitar Hari Keuangan 30 Oktober, buku yang dicetak warna penuh (full colour) setebal 303 halaman itu dilempar ke pasaran.

Perjalanan sejarah mata uang tampaknya tak ubahnya cermin sejarah bangsa itu sendiri. Cerita tentang terbitnya uang ORI, misalnya, menunjukkan bahwa perjuangan merebut kemerdekaan tak cukup lewat senjata dan diplomasi. Kemerdekaan ekonomi, yang antara lain ditandai dengan punya uang sendiri, pun sangat diperlukan. Merdeka tanpa uang boleh dikatakan tak ada artinya.

Pada tahun pertama kemerdekaan, di masyarakat beredar lima jenis mata uang. Uang sisa zaman kolonial Belanda, De Javasche Bank, masih laku. Ada lagi uang yang sudah dipersiapkan oleh Jepang sebelum menguasai Indonesia dengan bahasa Belanda, bahasa resmi Hindia Belanda. Mata uang De Japansche Regering, berkode “S” yang dikeluarkan 1942 itu bernilai satu gulden. Yang ketiga adalah uang pendudukan Jepang yang menggunakan bahasa Indonesia, Pemerintahan Dai Nippon. Keempat, Dai Nippon Teikoku Seibu, emisi 1943, bergambar wayang orang. Setelah Sekutu mendarat di Tanjungpriok 29 September 1945, ada uang NICA, (Netherlands Indies Civil Administration).

Namun, pemerintah Indonesia yang masih muda itu tak tinggal diam. Oktober 1945, Menteri Keuangan RI, Mr. A.A. Maramis, membentuk tim untuk mempersiapkan pencetakan uang RI. Percetakan G. Kolf Jakarta dan Nederlands Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF) Malang dinilai memenuhi syarat untuk cetak-mencetak uang. Lewat tangan R.A.S. Winarno dan Joenet Ramli, yang bertanggung jawab atas produksi perdana ini, akhir Oktober 1946 muncullah emisi pertama uang ORI.

Peredaran uang ORI ini dimaksudkan untuk mematahkan dominasi uang NICA yang semakin menyebar di Indonesia. Selain itu, secara politis peredaran uang ORI, menurut Sutopo Yuwono dalam pengantar buku ini, dimaksudkan untuk membesarkan hati bangsa yang baru merdeka. “Apabila proklamasi tak disusul dengan keluarnya mata uang ORI, maka barangkali banyak orang meragukan bahwa RI benar-benar ada,” kata penyelia buku itu.

Sekutu kemudian mengumumkan bahwa “hanya uang NICA yang berlaku sebagai alat pembayaran yang sah di wilayah pendudukan Sekutu”. Sementara itu, uang ORI secara perlahan beredar dari tangan ke tangan rakyat karena rakyat pedesaan, yang menguasai kebutuhan penduduk perkotaan, hanya mau menerima ORI. Situasi seperti ini sama dengan peranan Greenbacks atau Continental Money semasa Perang Kemerdekaan Amerika pada abad ke-17, yakni sebagai instrumen revolusi.

Kesulitan memang timbul, ketika penduduk pedesaan membutuhkan barang konsumsi hasil impor pakaian, obat-obatan, dan sebagainya yang hanya dijual di kota. Celakanya, barang-barang itu hanya bisa dibeli dengan uang NICA. Sayangnya, informasi akhir tentang “peperangan” itu, yakni terdesaknya posisi uang ORI oleh uang NICA, tak terungkap dalam buku ini. “Sebetulnya pembaca perlu diberi tahu tentang fakta sejarah bahwa akhirnya ORI kalah dalam menghadapi uang NICA,” kata salah seorang tim penyusun.

Menghadapi tekanan dan meluasnya kekuasaan militer Belanda pada agresinya yang kedua, pemerintah RI mundur. Gempuran dan aksi-aksi militer Belanda membuat pemusatan pencetakan dan pengedaran uang tak bisa dilakukan lagi. Komunikasi pusat-daerah yang normal putus. Untuk itu, RI membolehkan daerah mencetak Oeang Republik Indonesia Daerah, disingkat dengan Orida.

Semasa perjuangan mempertahankan kemerdekaan 1947 sampai 1949, pemerintah daerah tingkat provinsi, keresidenan, dan bahkan kabupaten, mengeluarkan uang masing-masing. Dari sinilah kemudian dikenal mata uang “Uang Kertas Darurat Untuk Daerah Banten”, “Uang Republik Indonesia Provinsi Sumatera”, dan lain-lain. Dari membaca dan melihat foto koleksi mata uang yang hampir lengkap ini, orang dapat tahu bagaimana sebuah pemerintahan ditegakkan lewat mata uang dengan cara seadanya.

Komandan Militer Darurat Perang Gerilya Total, Sektor Malang, pada 1948, menerbitkan uang pecahan 10 rupiah di atas kertas payung, berwarna cokelat, dan diketik dengan mesin ketik biasa. Tidak hanya kurun waktu revolusi yang dicatat dalam buku ini. Hampir semua mata uang yang pernah dikeluarkan dan beredar tercakup dalam buku ini, yang dikelompokkan secara periodik. Termasuk ketika terjadi peristiwa “gunting Syafruddin” tahun 1950, yakni pengguntingan uang kertas De Javasche Bank dari pecahan 5 gulden, dengan nilai setengahnya. Uang koin dari emas murni dengan pecahan 125 ribu, 250 ribu, dan 750 ribu rupiah, emisi 1990, juga disajikan dalam buku ini. Sayangnya, pencetakan buku yang dikemas dalam edisi luks, dan dicetak dalam kertas mengkilat, itu kurang sempurna. Akibatnya, foto-foto tidak tampil dengan baik.

Penyusunan mata uang kertas dan logam juga kurang bagus. Ada pengulangan antara mata uang kertas dan logam. “Cacat” lain, tak adanya penjelasan tentang penarikan uang seri hewan emisi 1957 yang ditandatangani oleh Gubernur RI Syafruddin Prawiranegara dan Direktur BI Sabarudin yang sempat beredar. Tampaknya, buku ini ingin menghapus latar belakang penarikan itu yang ada hubungannya dengan keterlibatan Syafruddin dalam peristiwa PRRI.

Begitu pula dengan uang yang dikeluarkan oleh PRRI dan DI/TII. Namun, Yuwono punya jawabannya. “Lo, uang DI/TII dan PRRI bukan uang kita,” katanya kepada Leila S. Chudori dari TEMPO. Padahal, dalam buku tersebut terdapat uang penjajah Belanda dan Jepang. “Itu untuk komparasi,” kata Yuwono. Yang paling gembira menyambut munculnya buku ini tentulah para numismatis, penggemar mata uang. “Dengan cara ini, numismatis bisa punya koleksi mata uang yang lengkap tanpa harus mengeluarkan uang terlalu banyak,” kata Kornel Karwenda, Ketua Perhimpunan Penggemar Koleksi Mata Uang Indonesia yang juga anggota tim penyusun. Alasan yang diberikan Kornel tersebut tidak berlebihan mengingat numismatis yang ingin mengoleksi mata uang secara lengkap harus punya dana yang besar.

Untuk uang tertentu, seperti seri hewan pecahan 10 dan 25 rupiah, saat ini di kalangan kolektor berharga Rp 2 juta sampai Rp 3 juta. Lagi pula, buku ini memang memajang gambar mata uang Indonesia cukup lengkap. Mata uang keluaran 1950-1990 dipasang komplet, seperti mata uang ORI. Mata uang daerah (Orida) hanya terpasang 80 persen saja. Sejarah yang dicatat oleh perjalanan mata uang RI tak hanya mengandung nilai-nilai historis rasional, tapi juga hal-hal yang berbau mistis.

Di kalangan numismatis, beredar anekdot yang menghubung-hubungkan lukisan atau gambar dalam mata uang dengan nasib “sial” akan terjadi. Menurut mereka, mata uang bergambar wayang akan menandai kejatuhan rezim yang mengeluarkannya. Lihat saja ketika tahun 1935 dan 1939 De Javasche Bank menerbitkan uang kertas seri wayang orang Jawa. Tak beberapa lama kemudian, awal 1942, kedudukan kolonial Belanda dijatuhkan Jepang. Begitu pula dengan nasib pemerintah pendudukan Jepang. Tahun 1943 pemerintah pendudukan itu mengedarkan uang daplang, bergambar wayang orang Gatutkaca terbang dan Arjuna. Tak lama kemudian Jepang pun jatuh. Ini terulang ketika Bung Karno mengeluarkan uang kertas pecahan satu dan dua setengah rupiah tahun 1964.

Tentu saja itu semua hanya kebetulan belaka dan tak harus dipercayai 100%. “Untuk melestarikan budaya bangsa, salah satu caranya bisa lewat gambar di uang itu,” kata seorang kolektor. Memang, para kolektor yang sudah “mata duitan” akan membayar berapa pun harganya asal mendapatkan uang yang punya nilai tinggi. Ternyata, pasaran paling tinggi bukan uang aneh dari daerah. Bukan pula koin emas atau perak. Peringkat paling tinggi masih dipegang oleh uang kertas bergambar binatang, terutama badak dan rusa. Juga masih ada seri binatang lain seperti harimau dan lain-lain. Itulah uang. Biar sudah tua, masih diburu juga. Rustam F. Mandayun dan Putut Trihusodo

(Tempo, 28 September 1991)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori