Oleh: numisku | 2 Maret 2010

Penemuan Uang Kuno Banten di Inggris

Oleh: DJULIANTO SUSANTIO

Penemuan serenceng uang kuno asal Indonesia di tepi Sungai Thames (Inggris) akhir 2003 lalu sebagaimana berita di SH, memang masih merupakan misteri, tapi menarik untuk disimak. Uang kuno tersebut berbahan tembaga dan berlubang segi enam di tengahnya. Pada setiap keping terdapat tulisan Arab yang berbunyi ”Pangeran Ratu ing Bantan”. ”Bantan” adalah sebutan untuk Provinsi Banten sekarang.

Dari hasil penelitian diketahui uang kuno ini bertarikh abad ke-17 dan merupakan mata uang kuno Jawa pertama di Inggris. Menurut rencana temuan ini akan dipamerkan di Museum London dalam waktu dekat.


Mutlak

Bagaimana koin-koin kuno itu bisa sampai di Inggris, tentu memerlukan penelitian lebih jauh. Yang mendukung penelitian adalah jumlah temuan relatif banyak yakni sekitar 900 keping.

Sebenarnya mata uang kuno sudah banyak beredar di Indonesia sejak ribuan tahun yang lalu, sejak masa prasejarah hingga pengaruh kerajaan-kerajaan bercorak Hindu/Budha. Selanjutnya pada zaman kerajaan-kerajaan bercorak Islam, jenis mata uang lebih banyak beredar. Ini terjadi karena setiap raja atau penguasa yang memerintah hampir selalu mengeluarkan mata uang. Misalnya Kesultanan Perlak, Samudra Pasai, Aceh, Banten, Cirebon, Siak, Jambi, Palembang, Buton, Gowa dan Sumenep.

Pada abad ke-16 muncul pedagang-pedagang dari Portugis, Belanda, Spanyol, dan Inggris. Mereka membawa mata uang logam sebagai alat tukar dalam perdagangan dengan penduduk pribumi. Sampai kini penemuan mata uang dari kerajaan/kesultanan lokal dan mata uang asing banyak terdapat di berbagai situs di Indonesia. Mulai yang berbahan perunggu dan timah hingga berbahan perak dan emas. Di samping Belanda, mata uang Inggris paling banyak dijumpai di Indonesia pada abad ke-18, antara lain golden ropy, stuiver, ropij, duit, double suku, dan kepeng.

Mata uang, khususnya mata uang logam (koin) merupakan salah satu benda yang berperanan penting untuk mengungkapkan perjalanan sejarah bangsa. Para arkeolog dan sejarawan merasa sangat terbantu apabila di situs ditemukan mata uang. Terlebih bila berjumlah relatif besar, sehingga memudahkan penafsiran data.

Mata uang merupakan artifak bertanggal mutlak. Ini karena mata uang mengandung data tekstual (tulisan) dan piktorial (gambar). Pada mata uang, misalnya, sering tertera angka tahun sehingga bisa ditafsirkan masa pemerintahan seorang raja/penguasa waktu itu. Selain itu bisa diketahui raja/penguasa mana yang menerbitkan mata uang tersebut melalui gambar wajah pada salah satu sisinya. Karena terdapat data tekstual dan piktorial, maka mata uang dipandang sebagai data primer.

Mata uang juga bisa menjadi alat bantu untuk memberikan penanggalan pada suatu lapisan tanah atau himpunan temuan. Ini sering dilakukan para arkeolog dalam berbagai proyek ekskavasi. Biasanya mata uang yang berada di dalam tanah memiliki hubungan fisik dengan temuan lain.

Sayangnya di Indonesia studi atau penelitian tentang mata uang masih jarang dilakukan. Hanya beberapa arkeolog yang sampai kini masih menekuni numismatik. Temuan mata uang ini sebenarnya memungkinkan para pakar dapat merekonstruksi mata rantai yang terputus (missing link), sehingga mampu mengisi kekosongan sejarah.

Contohnya mengenai keberadaan sultan-sultan Banten. Dalam pemerintahannya hampir sebagian besar Sultan Banten mengeluarkan mata uang sehingga merupakan urutan yang panjang. Dengan demikian mata uang dapat menggantikan peranan sumber-sumber tertulis yang ada. Umumnya mata uang kuno terdapat di daerah pantai.

Koin peninggalan Kerajaan Yunani dan Romawi hingga kini dianggap memiliki nilai sejarah yang tinggi. Sumber-sumber demikian sulit diperoleh dari artifak-artifak lain. Pelukisan Alexander Agung, Apollo, Kaisar Nero, dan Philipus sangat membantu penafsiran sejarah.

Keindahan, seni, dan detail yang mengagumkan sangat dipuji para arkeolog dan numismatis. Mereka memotret secara realistis para kaisar, negarawan, dan panglima perang. Ini dipandang merupakan catatan sejarah yang tidak ternilai.


Banten

Provinsi Banten baru terbentuk pada 2000. Namun nama Banten sudah terkenal sejak berabad-abad lampau. Banyak penduduk Nusantara dan pengelana mancanegara mengenal Banten sebagai kota dagang dan kota pelabuhan penting. Pada abad ke-12 hingga ke-15 Banten menjadi pelabuhan utama Kerajaan Sunda yang banyak disebut buku-buku sejarah.

Sebelumnya peran Banten kurang begitu penting sebagaimana diungkapkan Tome Pires, pengeliling dunia bangsa Portugis. Nama banten menjadi besar ketika berdiri kerajaan bercorak Islam.

Setelah kedatangan bangsa Belanda pada 1596, Banten menjadi pusat perekonomian dunia. Banyak pedagang mancanegara bertransaksi di sini. Mereka berdatangan dari Portugis, Inggris, Arab, Persia, Turki, Cina, Keling, Pegu, Malaya, Benggali, Gujarat, Malabar, dan Abesinia (sekarang Ethiopia).

Dalam transaksi sudah digunakan uang sebagai alat pembayaran. Mata uang yang dikenal luas di sana antara lain mata uang Cina cash. Mata uang lain adalah tumdaya atau tael.

Primadona di Banten adalah perdagangan keramik. Banyak ekspor keramik ke Eropa dilakukan dari sini. Intensitas tertinggi perdagangan keramik terjadi pada 1614-1616 mencakup lebih dari 130.000 potong keramik.

Puncak kebesaran Kerajaan Banten dicapai ketika pemerintahan dipegang oleh Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1672). Di masa ini Banten mengalami pembangunan besar-besaran.

Kemudian nama Banten semakin terkenal ke mancanegara. Pada masa Sultan Haji, Banten mengirim duta besar pertama ke Inggris (1662), yaitu Kyai Ngabehi Naya Wipraja. Karena dipandang berjasa, beliau dianugerahi gelar Sir Abdul oleh Raja Inggris Charles II.

Temuan uang kuno di Inggris itu kemungkinan berhubungan dengan Sultan Haji. Namun bagaimana bisa sampai terendam lumpur: apakah sengaja dibuang orang karena uang Banten tidak laku di Inggris, sengaja dipendam oleh ulah usil penggemar barang antik, terjatuh dari kapal, atau penyebab lain, kita masih menunggu tim peneliti Inggris karena merekalah yang punya barang tersebut.

About these ads

Responses

  1. Post yg sangat menarik mas, mohon ijin copas untuk dimuat di blog : http://humaspdg.wordpress.com/ mudah2an akan menumbuhkan rasa kecintaan masyarakat Banten terhadap daerahnya…

    Silahkan mampir di blogku mas….

    • Silakan, Banten ibarat rumah kedua bagi saya, cuma udah 20 thn nih gak ke Banten. Dulu saya sering ke Banten sewkt Pak Halwany Michrob masih ada. Belasan kali penelitian arkeologi, bahkan melakukan tugas jurnalistik di sana.

  2. seharusnya ada gambar tempat dimana uang itu di temukan

    • sumbernya hanya menyebutkan Sungai Thames

  3. Hanya beberapa sultan Banten yg mengeluarkan mata uang ,masih kalah jika dibandingkan dengan sultan/sultanah Samudra Pasai(abad XIII)s/d Aceh Darussalam(berakhir abad XVIII)yg menerbitkan serangkaian mata uang emas (mas,maih,deureuham) sehingga menarik perhatian seorang kolektor Belanda untuk menerbitkan buku yg cukup lengkap,sekitar seabad setelah penerbitan jenis karya yg sama. Karya lokal Banten menyebutkan mata uang dari 3 bahan logam,yg sampai sekarang tidak diketemukan jenis tsb.

    • Ya memang dari 20-an sultan Banten, hanya bbrp yg mengeluarkan uang. Sayang museum kita sedikit memiliki koleksi tsb. Sangat ironis dibandingkan kolektor asing. Ttg S Pasai, memang sejak dulu Sumatera dikenal sbg ‘negeri emas’. Mudah2an koleksi numismatik Museum Nasional mengarah ke koleksi kerajaan/kesultanan sehingga sejarah Indonesia lebih terkuak.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.